Zenith 75 WP Terbukti  Efektif Cegah dan Kendalian Penyakit yang Diakibatkan oleh Jamur

Indonesia memiliki potensi hortikultura yang besar untuk komoditas seperti kentang dan bawang merah. Kedua tanaman ini bukan hanya penting untuk ketahanan pangan dan substitusi impor, tetapi juga memberi peluang ekonomi bagi petani skala kecil sampai komersial. Produksi bawang merah Indonesia pada 2023 tercatat naik dan diperkirakan mencapai jutaan ton, sedangkan kentang juga menunjukkan tren peningkatan produksi di beberapa wilayah. Dukungan teknologi pengendalian penyakit menjadi kunci agar potensi tersebut dapat dimaksimalkan.

Gambar 1. Tanaman Kentang dan Bawang Merah

Dalam praktik budidaya, terdapat faktor-faktor penghambat dalam meningkatkan produksi tanaman seperti kehadiran hama penyakit. Pada kentang, penyakit paling merusak yang disebabkan oleh jamur adalah busuk daun yang disebabkan Phytophthora infestans, penyakit lain yang sering muncul adalah early blight yang disebabkan oleh Alternaria spp. serta penyakit bercak daun. Sedangkan pada bawang merah, penyakit jamur penting termasuk bercak ungu yang disebabkan Alternaria porri, serta penyakit cakung atau busuk daun lain yang menurunkan kualitas dan hasil panen.

Beberapa faktor yang memicu ledakan penyakit jamur diatas adalah kelembapan tinggi dan frekuensi hujan yang sering sehingga mendukung sporulasi dan penyebaran, suhu yang sesuai bagi patogen, kepadatan kanopi yang mengurangi sirkulasi udara, irigasi yang memicu genangan pada daun, residu tanaman yang menjadi sumber inokulum, serta praktik rotasi tanaman yang kurang baik. Oleh karena itu, perlu adanya penangan secara preventif dan kuratif untuk mengendalikan jamur patogen.

Gambar 2. Penyakit utama tanaman kentang (busuk daun) dan bawang merah (bercak ungu)

Pengendalian penyakit jamur patogen memerlukan strategi terpadu (IPM) yang menggabungkan praktik budidaya, sanitasi, dan penggunaan fungisida yang tepat. Salah satu produk fungisida dari nufarm yang mampu mengendalikan penyakit jamur adalah Zenith 75 WP. Fungisida ini bersifat kontak yang mengandung bahan aktif propineb sebesar 75% yang dapat melindungi tanaman dari serangan penyakit yang disebabkan oleh jamur.

Sebagai fungisida golongan dithiocarbamate, propineb bekerja secara multisite yang berarti menyerang beberapa proses metabolik jamur sehingga menurunkan risiko resistensi dibandingkan fungisida satu situs. Propineb bersifat protektif atau kontak yang dapat membentuk lapisan pelindung pada permukaan daun untuk mencegah inokulasi dan germinasi spora. Selain itu, beberapa formulasi mengandung unsur zinc yang dapat memberi efek kesehatan tanaman pada tipe tanam tertentu.

Gambar 3. Zenith 75 WP

Apa Keunggulan Zenith 75 WP?

Beberapa kelebihan produk Zenith 75 WP dari nufarm, sebagai  berikut:

  1. Spektrum luas dan protektif: efektif mencegah sejumlah penyakit foliar seperti busuk daun (late blight) pada kentang dan bercak ungu pada bawang merah karena aksi kontaknya.
  2. Multi-site mode of action: mengurangi kemungkinan perkembangan resistensi bila digunakan secara bijak dalam rotasi atau kombinasi dengan fungisida ber-mode berbeda.
  3. Formulasi mudah larut dan kompatibel: memudahkan pencampuran dengan beberapa produk lain bila diperlukan (uji kompatibilitas disarankan).
  4. Cocok untuk berbagai cuaca: dapat digunakan baik pada musim hujan maupun kemarau sebagai bagian dari strategi preventif.

Berapa Dosis/konsentrasi Penggunaan?

Untuk mendapatkan hasil yang optimal, maka petani dianjurkan mengaplikasikan produk Zenith 75 WP sesuai rekomendasi penggunaan. Dosis/konsentrasi yang dibutuhkan untuk mengendalikan busuk daun Phytophthora infestans pada tanaman kentang yaitu 3 gram/liter air, disemprotkan sebelum atau saat muncul gejala serangan ringan. Sedangkan untuk penyakit bercak ungu Alternaria porri pada tanaman bawang merah, dosis yang diperlukan adalah 2-3 gram/liter air, diaplikasikan sebelum atau segera saat gejala ringan.

Ulangi aplikasi setiap 7–14 hari tergantung tekanan penyakit dan kondisi cuaca. Apabila kondisi sangat lembap atau serangan tinggi, interval penyemprotan bisa lebih pendek misalnya setiap 7 hari sekali. Disarankan petani juga membaca label produk sebelum penggunaan di lapang. Jika ada informasi yang kurang jelas, petani bisa bertanya kepada petugas pertanian setempat.